Friday, May 05, 2006
Ayo Gemar Membaca, Nak!
LINK : CyberWOMAN

Anak yang suka membaca sejak kecil, tak hanya berpengetahuan luas dan juga memiliki rasa bijaksana.

Anak tidak dilahirkan dengan kemampuan membaca. Oleh karena itu, mengenalkan anak dengan buku merupakan tanggung jawab orang dewasa, khususnya orang tua. Mengapa? Karena anak belum mengerti manfaat membaca buku. Menurut penelitian para ahli pendidikan, pembentukan potensi belajar pada seseorang sebanyak 50 persen terjadi pada usia 0-4 tahun. Bisa dibilang usia balita adalah masa pembentukan, jadi tak ada salahnya Anda mulai menanamkan minatnya pada buku.

Bagaimana membuat anak jatuh cinta pada buku? Menurut Sastrawati, Helvy Tiana Rosa, SS., M.Hum, orangtua harus menciptakan suasana yang mendukung anak mencintai buku. Hal yang pertama dilakukan adalah orangtua harus mencintai buku terlebih dulu, sehingga anak akan melihat dan mencontoh. Sediakan waktu Anda untuk membaca setiap hari, dan lakukan di depan anak misalnya ketika anak tengah asyik dengan mainannya atau saat sarapan pagi bersama.

Buatlah kegiatan membaca itu menarik sekaligus mengasyikkan. Pasanglah ekspresi wajah senang atau sedih ketika Anda tengah membaca buku. Melihat mimik wajah Anda, anak akan bertanya-tanya. Saat inilah, ceritakan apa yang membuat Anda tertawa atau menangis. Ketika rasa ingin tahunya muncul, Anda bisa menyodorkan buku, sambil berkata ‘ini lho nak yang membuat mama tertawa, kamu mau mama ceritakan..lucu sekali’. Atau Anda mendongeng dengan menggunakan alat peraga seperti boneka atau gambar. Agar lebih menarik lagi, ketika ia tengah asyik bermain sisipkan sebuah cerita. “Membacakan cerita harus disertai mimik wajah untuk mewakili isi cerita karena dapat membantu pemahaman anak atau lebih kreatif lagi buat drama bersama anak,”ujar anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta ini.

Ganti kebiasaan Anda membelikan hadiah mainan dengan buku, ini akan jauh lebih bermanfaat. Jika anak terlihat kecewa, perlihatkan bahwa buku berisi sesuatu yang menarik. Ajak anak duduk bersama saat Anda membacakan cerita. Kehangatan suasana yang diciptakan Ibu saat membacakan cerita membuat anak merasa nyaman. Perasaan tersebut akan menimbulkan asosiasi yang menyenangkan pada kegiatan membaca. “Saat itu anak merasa disayangi, dia juga menyukai ekspresi dan nada bicara si Ibu ketika membaca. Dia akan rindu dibacakan cerita,”ujar Chandra Widjaja.BA., salah satu pemilik penerbitan buku anak ini.

Tahukah Anda membacakan cerita kepada anak memiliki segudang manfaat yang dapat kita petik, antara lain :
Merangsang perkembangan emosi anak. Helvy menjelaskan saat mendengarkan cerita anak menangkap gambaran emosi misalnya sedih, marah atau gembira. Jika diterapkan pada usia dibawah 2 tahun, dia akan mengenal beragam emosi selain sedih dan senang. Bayangkan ketika menginjak usia balita anak, dia akan belajar bersikap lebih empatif dan simpatik. Maka pilihlah buku yang menyelipkan nilai-nilai moral didalamnya. Sehingga kelak anak mampu mengatasi masalah kehidupan dengan baik.

Kreatifitas lahir dari sebuah imajinasi. Tanpa disadari saat mendengarkan Anda membaca buku, anak ‘bermain’ dengan khayalannya. Dia mengurutkan alur cerita menurut versi penggambarannya sendiri. “Anak yang sering dilatih imajinasinya, akan terbiasa mencetuskan ide-ide cemerlang yang melahirkan suatu bentuk kreatifitas,”ujar dosen pengajar yang juga cerpenis ini.

Melatih konsentrasi anak. Mendengarkan Anda membaca juga akan memudahkan pengembangan konsentrasi lisan karena anak sering menerima masukan informasi lisan dari buku yang dibacakan.Umumnya, jangka waktu konsentrasi pada anak balita tergolong pendek, dengan memdengarkan cerita dia akan lebih lama terfokus konsentrasinya. Tentu bergantung pada bagaimana Anda bercerita. “Jangan bercerita semata-mata agar anak lebih cepat membaca. Proses ini akan berjalan secara alami,”kata Chandra.

Menurut penelitian suatu badan nasional di Inggris, National Literacy Trust menyimpulkan bahwa jika anak terbiasa dibacakan cerita dan memilki ‘perpustakaan’ di rumahnya maka kemampuan membacanya akan meningkat.

Jika anak terbiasa menghadapi buku, secara tidak langsung akan memotivasi minat bacanya. Apa yang terjadi dengan si kecil? Helvy memaparkan, anak akan penasaran mengetahui cerita dari buku-buku lain selain yang dibacakan oleh orangtuanya. Sehingga dia menjadi tidak sabar untuk bisa membaca buku sendiri. “Dia merasa didalam buku banyak hal yang ‘baru’ dan baginya itu menantang. Anak akan lebih milih membaca sendiri dibanding menunggu Ibu pulang kerja untuk minta dibacakan,”kata pencetus ide taman baca Cahaya ini.

Hal yang harus diingat biarkan kemauan membaca itu datang sendiri tanpa ada paksaan. Jadi kapan saat tepat mengajarkan anak membaca? Saat anak sudah bisa menggenggam buku. Ajari anak mengenal huruf terlebih dulu, caranya dengan menempelkan huruf-huruf yang besar dan berwarna-warni di kamarnya. Ketika memasuki kamar, Anda berkata ‘Eh lihat ada huruf C sedang tersenyum’ atau ‘itu namanya huruf B’ ketika anak menunjuk-nunjuk salah satu gambar, Cara lainnya dengan bernyanyi. Senandungkan rangkaian huruf mulai dari A-Z atau A-M jika anak masih terlalu kecil. “Jangan ajarkan anak membaca dibawah tekanan atau mengejar target, anak jadi takut dan tidak suka baca. Harus lihat minat anak,” kata Helvy.

Selain itu, untuk membuat anak cinta baca orangtua harus bisa mengelola emosinya untuk menumbuhkan minat baca anaknya. Jangan langsung panik ketika anak salah mengeja huruf. Orangtua juga harus siap ‘diganggu’ dengan pertanyaan-pertanyaan kritis dari anak. Misalnya, ketika di jalan dia menanyakan setiap kalimat yang tertera di papan reklame. “Jika orangtua salah menyikapinya, anak menjadi trauma bertanya dan memilih diam. Minat baca pun mengendor,”papar Helvy. Berikut tahap-tahap mengembangkan minat baca pada anak.

Berikan anak bacaan yang penuh dengan gambar-gambar menarik. Biarkan ia membolak-balik buku-buku atau majalah tersebut. Sekali-kali, cobalah memintanya memilih buku sendiri untuk mengetahui minatnya. Tidak masalah jika dia lebih memilih membaca komik, majalah dan koran. Janganlah berpikir bahwa ketiga jenis bacaan tersebut tidak bermutu. “Anak yang baru bisa baca, senang melihat buku dipenuhi oleh gambar seperti komik atau majalah. Gambar dapat membantu anak menerka arti kata yang tidak dimengerti,”ujar salah satu dosen sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta ini.

Bagi mereka bacaan tersebut memiliki beberapa kelebihan. Misalnya komik memiliki karakter, garis cerita, jenis bahasa, dan nada yang sama. Sedangkan, majalah dan koran memiliki paragraf yang pendek sehingga lebih mudah dibaca. Perlahan lahan Anda bisa menggerakkannya untuk membaca buku.

Buku pertama yang diberikan untuk anak sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan membacanya. Chandra menganjurkan sebaiknya pilih buku yang ceritanya sederhana yang bisa dilihat dari pemilihan katanya dan alur cerita pendek. Bacaan mengandung humor, karena anak seringkali terkesan pada buku yang lucu. Misalnya ada kalimat ‘Tahukah kamu kalau setiap hari kita memakan rumput lho, tidak percaya? Padi kan termasuk golongan rerumputan’. Anak akan takjub, ternyata manusia juga makan golongan tanaman rerumputan sama seperti Sapi atau Kambing.

“Pengetahuan yang dipaparkan buku sebaiknya disampaikan dengan ringan dan ada humornya agar anak tertarik,”kata Chandra lulusan Sastra Inggris di Georgetown University, Washington DC ini.

Biasanya anak mulai memilih sendiri bacaan yang disenangi. Terkadang anak menolak membaca buku lain dan seringkali orangtua kerepotan menghadapinya. Namun, sebaiknya Anda tetap mendukung anak mencari buku favoritnya. Meski sudah bisa membaca sendiri sesekali bacakan buku yang menarik menurut Anda kepada anak.

Selanjutnya adalah pengembangan. Orangtua harus mulai memperkenalkan bacaan lain diluar dari yang disukai anak. Anda bisa menyarankan buku jenis yang sama dari pengarang yang berbeda. Manfaatkan perpustakaan atau taman bacaan untuk didatangi. Berdasarkan pengamatan Helvy, sebagian orangtua terkadang mempunyai banyak pertimbangan ketika membelikan anak buku khususnya soal harga. Padahal buku tidak bisa dinilai dengan uang.“Jika harga buku terlalu mahal, Anda bisa gunakan fasilitas perpustakaan dan taman bacaan. Sediakan waktu luang misa seminggu 2 atau 3 kali,”ujarnya. Justru malah buku yang mahal akan membuat anak semakin menghargai buku tersebut.

Berikan dukungan untuk peralihan ke bacaan yang lebih luas. Jika Anak sudah terpikat pada buku kesenangannya, memberikan bacaan klasik akan membantunya mengembangkan minat baca. Ia akan dapat menikmati buku lain selain yang disenanginya. Lalu biarkan anak mencari buku sendiri. Pada tahap ini anak sudah mempunyai kebutuhan terhadap buku. Dia akan mencoba jenis-jenis fiksi baru dan selalu mencari buku berikutnya.

Minat baca anak harus didukung kesempatan yang luas untuk membaca.
Sediakan ‘perpustakaan kecil’ milik anak disamping rak buku Anda. Sebisa mungkin Anda menjadi ‘donatur buku’ baginya. Latihlah dia untuk merawat buku-buku tersebut. “Jadilah contoh bagi anak, jika ingin anak merawat bukunya kita juga harus mencintai buku,”saran Helvy.

Selain itu sediakan waktu untuk membaca bersama, Anda dengan buku bacaan favorit sendiri begitupun dengan si kecil. Kemudian diskusikan apa yang baru saja dibacanya, jika dia tidak memahami isi alur cerita coba baca bersama-sama. Helvy mengingatkan, terkadang anak hanya memahami sebagian isi cerita dan selebihnya mengarang cerita. Jangan langsung mengatakan ‘salah, kok kamu gak mengerti’ tapi bujuk dia untuk membacanya sekali lagi ‘wah kamu kreatif juga ya, tapi kok beda sama versi mama. Yang bener siapa ya? yuk baca lagi’. Anak akan penasaran mengetahui isi cerita sebenarnya.

Pemilihan Buku
Pada dasarnya, anak bisa diperkenalkan dengan beragam jenis buku. Namun untuk memberikan Anda acuan memperkenalkan buku pada anak di usia dini. Ada beberapa tips memilih buku berdasarkan tingkat usia anak dan taraf perkembangannya.

Usia 2-3 tahun
Pilih buku bergambar tanpa teks. Menurut Chandra, membaca tidak harus berkaitan dengan tulisan tapi juga memahami gambar dan bercerita melalui gambar. Pada taraf perkembangan ini anak sudah mampu membolak-balik halaman buku. Maka pilihlah buku dengan hardcover agar tidak mudah rusak serta ujung-ujung yang tumpul agar tidak melukai anak.

Anak juga sudah bisa mengenal tokoh, warna dan benda. Perkenalkan tokoh-tokoh dan benda-benda yang ada di tiap halaman. Setiap menemukan gambar baru, misalnya gambar buah mangga, pepaya, bunga, perbendaharaan anak akan bertambah.
Usia 3-4 tahun
Nah pada masa ini, Anda bisa membacakan buku dengan teks singkat dan halaman gambar lebih banyak. Pada masa ini anak, sudah bisa menangkap urutan cerita dan memiliki konsentrasi lebih lama. Pilih buku besar yang dipenuhi oleh gambar dengan warna-warna menarik. Mulai ikuti alur cerita sederhana sesuai dengan kemampuan anak. Dekatkan anak dengan karakter dalam tokoh cerita tersebut, sehingga anak lebih mudah mengingat buku yang tengah dibacanya.

Usia 4-5 tahun
Wah sekarang anak menjadi lebih haus membaca. Jadi pilihlah buku dengan cerita yang lebih luas dan gambar-gambar yang humoris. Teks cerita lebih banyak dibanding sebelumnya, namun tetap sederhana. Penempatan teks cerita juga tidak monoton, misalnya teks ditempatkan pada box kecil dengan warna yang menarik. Box-box tulisan akan mengesankan teks lebih singkat. Namun jika digabungkan bayangkan berapa kalimat yang anak baca.

“Tidak masalah kapan Anda mulai membelikan buku cerita untuk anak. Yang penting anak mengenal apa itu buku dan senang dengan kegiatan membaca atau dibacakan cerita,”kata Helvy, Ibu dari salah satu penulis cilik di Indonesia ini.
 
posted by Duma at 5/05/2006 06:12:00 PM | Permalink |


0 Comments: