Friday, April 07, 2006
Kesabaran Seorang Hayden
Torey Hayden
Kesabaran Seorang Hayden
Jakarta, 12 September 2004

Dari : Gatra.com

Penulis buku laris Sheila, Torey Hayden , menegaskan keyakinannya dalam menangani anak-anak berkebutuhan khusus, mulai dari tunanetra, autistik dan down syndrome. Menurutnya, setiap anak perlu dihargai, tak peduli siapa pun atau bagaimana pun keadaannya. "Ada sebuah kesempurnaan dalam menjadi tidak sempurna," katanya, mengomentari murid-muridnya yang mempunyai kelainan khusus, misalnya kisah Sheila, yang diceritakan dalam novel non-fiksi pertamanya, saat menandatangani buku-bukunya di QB Plaza Semanggi, Jakarta, pekan lalu.

Perempuan kelahiran Livingstone Amerika, 21 Mei 1951, yang datang ke Indonesia atas undangan penerbit Qanita-Mizan bekerja sama dengan Depdiknas, Pertamina dan Kompas, untuk berbagi pengalaman itu, juga membeberkan kiat-kiat menghadapi anak-anak normal tapi mempunyai trauma dalam hidupnya, misalnya anak-anak di daerah konflik. "Berada dalam konflik adalah hal yang sangat menakutkan, terutama bagi anak-anak. Yang pertama kita lakukan adalah mengajarkan kepada mereka bahwa merasa takut itu wajar, dan mengaku merasa takut bukanlah suatu kelemahan" ujar penyandang master di bidang pendidikan khusus itu. Menurutnya, sangat penting mengajarkan kepada anak-anak sejak dini bahwa setiap orang mempunyai perbedaan, termasuk perbedaan agama dan status sosial. "Ini sangat penting agar anak-anak tidak merasa trauma dengan adanya konflik, dan mengerti bahwa perbedaan tidak selalu salah," tambah ibu seorang putri bernama Sheena, yang kini bermukim di Northwales, Inggris itu.

Guru yang berpengalaman lebih dari 30 tahun menangani anak-anak berkebutuhan khusus itu lalu mengisahkan sebuah pengalaman menghadapi seorang anak yang menderita trauma. Setiap kali datang ke kelasnya, anak itu langsung lari dan bersembunyi di bawah piano. Selama lima bulan, Hayden menemani anak tersebut di bawah piano dan terus berbicara kepadanya. Sampai suatu saat, ia menghalangi anak itu untuk bersembunyi di bawah piano dan mengajaknya duduk di atas kursi, seperti anak-anak didiknya yang lain. [Tma, Ant]
 
posted by Duma at 4/07/2006 09:45:00 AM | Permalink |


1 Comments:


  • At 11:24 AM, Blogger Mommy Arya&Kinan

    Saya ikut Workshopnya th 2004 lalu di gd. DepDikNas.
    Jd inget 10 kasus di workshopnya.
    salah satunya:

    Anak lelaki, 6th, kelahirannya sulit dan kepalanya sangat besar.
    Sewaktu kecil ia pernah sakit parah, yang disebut orangtuanya
    "demam-otak", mungkin meningitis, meskipun ini tak pernah
    diverifikasi secara resmi. Di sekolah anak ini mengisolasi diri,
    sering tampak disorientasi, sering tantrum hebat, dan tidak rukun
    dengan anak-anak lain, lebih suka menyendiri. Orangtuanya kehilangan
    3 anak lain sebelum anak ini lahir dan sekarang ibunya marah karena
    personel sekolah mengatakan bahwa anak ini terganggu secara
    emosional. Sang ibu tidak sepakat. Ia merasa anaknya normal, tak mau
    anaknya di tes, dan kemudian menariknya dari sekolah dan memutuskan
    untuk mengajarinya sendiri di rumah. Menurutnya, tantrum anak itu
    "normal untuk anak lelaki".