Sumber :
Republika OnlineMinggu, 12 September 2004
Torey Hayden
'Hidup Saya Serba Kebetulan'
''Tak terbayangkan bisa sampai ke Indonesia,'' komentar Torey Hayden di depan ratusan penggemarnya di Gedung Depdikbud, Jakarta, pekan lalu. Sejak kecil ia tak pernah bercita-cita menjadi penulis yang dikenal hingga ke seluruh dunia, disambut dengan gempita. Torey adalah seorang guru anak-anak berkebutuhan khusus. Ruang kelas baginya bukan sekadar arena memberikan pengetahuan dan mengasah keterampilan anak. Di situ ia mengajar mereka tata pergaulan. Wanita berperawakan tegap ini memang punya kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi murid-muridnya. Ia percaya, Tuhan menciptakan manusia sempurna. ''Kalau anak itu tidak sempurna, itu karena mata kita tidak melihat kesempurnaan itu,'' katanya suatu ketika, ''Dan, kita harus mencari kesempurnaan itu.'' Pengalaman Torey dengan murid-muridnya dituangkan dalam tulisan yang disambut dengan penuh antusias di seluruh dunia. Begitu pula di Indonesia. Para pembaca menggandrungi buku-buku Torey; Sheila, Jaddie, Kevin, Murid Istimewa, dan Venus (Judul versi Indonesia, diterbitkan oleh Qanita, kelompok penerbit Mizan). Dalam kunjungan dua pekan di Indonesia, Torey sempat mengadakan ceramah umum di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung. Ia juga memberikan workshop dua hari tentang pengalamannya mendidik anak-anak berkebutuhan khusus. Berikut wawancara wartawan Republika Irfan Junaidi dan fotografer Nonang MR di sela-sela waktu luangnya di Jakarta, Jumat (10/9) lalu.Kemarin ada bom di Kedutaan Besar Australia, punya pandangan tentang itu?Ya, saya kira ini peristiwa penting. Saya sudah menuliskannya dalam website saya di internet (alamatnya:
www.torey-hayden.com). Tulisan tentang ini perlu untuk orang-orang yang concern atau punya perhatian atas keberadaan saya di Jakarta. Saya rasa ada beberapa poin. Yang pertama, orang yang membom tidak mewakili orang Indonesia atau Muslim. Orang-orang yang lurus apa pun latar belakang bangsa, suku, agamanya pasti tak akan suka perbuatan seperti ini. Pada waktu yang sama, yang penting, orang yang melakukan tindakan amarah luar biasa biasanya orang yang tak berdaya. Mereka merasa tak bersuara, tak punya cara lain untuk mengekspresikan dirinya sendiri.

Saya bicara soal anak dengan kebutuhan khusus. Banyak orang bicara pada saya, bagaimana kami mengendalikan temper tantrum pada anak autistik atau anak dengan ADD. Anak-anak ini tantrum karena mereka tidak bisa berkomunikasi. Mereka menjadi frustrasi dan marah, dan merasa tak berdaya. Dalam pengalaman saya, Anda tak bisa membantu mereka dengan ganti memarahinya. Itu tak akan mengubah perilakunya, malah memperburuk.
Memukul lebih keras orang yang memukul kita bisa menghentikan perilaku orang itu. Tapi, kita tidak menghentikan kemarahannya. Kita harus memberikan mereka suara dan bergerak dari sana. Buat saya sendiri, saya tetap senang berada di sini.
Apakah punya ide pendekatan psikologis untuk aksi teror?Saya rasa dialog harus dilakukan. Saya tak tahu dengan siapa dan bagaimana. Saat ini yang pokok pihak penting tidak mempertimbangkan dialog, hanya mempertimbangkan pembalasan. Saya tak melihat perubahan sampai satu pihak yang mau mendengarkan. 'Aku dengarkan apa yang kamu mau katakan'. Sebab, ini sudah berlangsung lama. 11 September, tak seorang di AS mengatakan, Mengapa merasa begini. Amerika mengatakan, kami akan menghabisi kamu.
Nama lengkapnya, Victoria Lynn Hayden. Wanita bermata biru cerah dan berambut pirang ini lahir pada 21 Mei 1951 di Livingston, Montana, Amerika Serikat. Awalnya ia belajar biologi, meraih gelar BA di bidang kimia fisika. Setelah tertarik pada penanganan anak-anak dengan kebutuhan khusus, dia mengambil gelar master di bidang pendidikan khusus. Ia sempat meneruskan pendidikan di tingkat doktoral di bidang yang sama, tapi tak menyelesaikannya. Setelah bertemu dengan banyak kalangan, apa yang Anda pikirkan tentang pendidikan anak berkebutuhan khusus di Indonesia?Saya sungguh terkesan. Saya punya kesempatan untuk melihat beberapa sekolahan. Saya berkunjung ke sekolah Islam Lazuardi, saya juga mengunjungi SDLB di Srengseng Sawah. Ini sangat baik dan saya diizinkan untuk menyaksikannya. Orang-orangnya mau bekerja serius menangani sekolah-sekolah itu.
Pendidikan anak berkebutuhan khusus ini bukan hanya sekadar persoalan uang. Ini penting untuk dikomunikasikan. Ini persoalan yang menyangkut manusia. Dan orang yang bekerja di sekolah-sekolah itu sudah bekerja keras. Sebagian sekolah masih menggunakan peralatan kuno. Tapi, guru dan murid-muridnya bekerja keras, mereka senang, dan mereka gembira bermain. Saya sungguh terkesan.
Apakah kondisi lingkungan di luar sekolah sudah kondusif untuk membantu pendidikan anak-anak seperti itu?Saya pikir, salah satu masalah untuk anak berkebutuhan khusus, tidak hanya di Indonesia, tapi di mana-mana, adalah semua budaya tidak terlalu baik dalam menerima perbedaan. Tentu saja, perbedaan yang saya maksud adalah perbedaan yang dimiliki anak-anak berkebutuhan khusus. Semua kalangan masyarakat, perlu didorong untuk mulai berpikir lebih terbuka dan menaruh perhatian.
Riset di Amerika Serikat (AS) telah menunjukkan bahwa inklusi (menyekolahkan anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler), membawa banyak keuntungan. Dengan mengetahui adanya anak berkebutuhan khusus, anak yang normal menjadi tahu bahwa rekannya yang tak beruntung itu tidak memiliki banyak kebebasan. Dengan cara membuka pikiran, kita akan bisa mengetahui adanya perbedaan. Saya pikir kelompok budaya juga harus sportif menerima mereka.
Apa treatment Anda untuk mewujudkan masyarakat yang berpikir terbuka itu?Saya pikir, program inklusi sangat penting. Sebab, orang yang normal mengetahui keberadaan anak yang berkebutuhan khusus itu. Mereka juga bisa membantu orang tuanya, keluarganya untuk memahami keberadaan anak-anak yang seperti itu. Perubahan ini menyangkut budaya. Perubahan budaya masyarakat pastilah sangat pelan, dan memerlukan kesabaran. Ini sangat penting bagi kita untuk mulai memahami posisi kita saat ini. Coba bandingkan dengan dua puluh tahun yang lalu. Kita lebih terbuka. Kita lebih mudah menerima perbedaan. Tapi ini telah diubah oleh generasi yang lebih muda.
Semangat apa yang membuat Anda sangat peduli dengan persoalan anak berkebutuhan khusus?(Sebelum menjawab, Torey tertawa lebar) Mmm... saya tiba-tiba saja masuk dalam masalah ini. Sebenarnya, saya mengambil jurusan biologi saat kuliah untuk menjadi sarjana. Saya datang dari keluarga kurang mampu. Dan saya mendapat beasiswa untuk membiayai kuliah saya. Tapi saya tidak punya cukup uang untuk menanggung biaya hidup.
Pernahkah Anda terpikir sebelumnya akan terjun dalam dunia anak-anak berkebutuhan khusus?Tidak, sama sekali tidak. Ini juga kebetulan saja (Torey tertawa lagi). Saya punya hidup yang serba kebetulan. Saya juga tidak pernah sama sekali membayangkan bisa seperti sekarang ini. Tak pernah terpikirkan sedikit pun, dalam 30 tahun lalu ketika masih di kelas, bakal bisa sampai ke Indonesia, dan berbicara seperti ini.
Jadi, waktu sekolah dulu Anda bercita-cita jadi apa?Saya ingin menjadi ahli biologi. Kampung halaman saya berada di bagian Amerika yang sangat bergunung-gunung, dan ada taman nasional yang terkenal. Kampung halaman saya berada di sisi utara pintu masuk taman nasional. Saya sangat senang dengan semua itu.
Berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan, Torey harus mencari beasiswa untuk bisa kuliah. Tapi, ternyata beasiswa pun tak mencukupi. Alhasil remaja berumur 18 tahun itu harus mencari uang. Dan satu-satunya pekerjaan yang didapat adalah mengajar di prasekolah untuk anak-anak dengan segala macam kecacatan. Tak ada pilihan lain. ''Saya ambil saja,'' tutur Torey suatu ketika. Pada hari pertama kerja, direktur sekolah memberi tugas menangani seorang anak yang saat di dalam bis sekolah bersembunyi di bawah kursi dan begitu sampai di sekolah langsung lari dan bersembunyi, menyelip di belakang piano. Torey tak tahu apa yang bisa dilakukannya menghadapi Mary, bocah berumur empat tahun itu. Mahasiswa yang sehari-hari berurusan dengan membedah kodok, kini harus menghadapi anak korban penganiayaan ayah tirinya. ''Saya bisa apa?'' Akhirnya, ia bertelungkup di bawah piano kecil itu agar bisa melihat wajah Mary. Ia mengajak bicara, Mary diam saja. Setiap hari ia berbicara berbagai hal, termasuk tentang dirinya, sampai waktu sekolah habis. Itu sampai tiga bulan. Mary tetap diam. Mulai kehabisan kata, Torey membacakan buku setiap hari sambil bertelungkup di bawah piano. Total lima bulan ia bertelungkup sampai satu hari, Torey langsung menangkap tangan Mary saat masuk kelas. ''Yuk, duduk di sini. Aku capek telungkup terus,'' katanya. Sejak hari itu, Mary mau duduk tapi tetap diam. Suatu hari di bulan ke sembilan, Torey membacakan buku tentang tupai. ''Di sekolah saya belajar tentang tupai. Dua hari penuh belajar tentang tupai di hutan,'' komentarnya. ''Kamu kan belajar tentang beruang,'' tiba-tiba Mary menyela. ''Itu dulu.'' ''Oh, saya kira kamu bohong.'' Itulah saat paling indah dan menarik dalam kehidupan Torey.
Kenapa dalam buku-buku Anda sedikit sekali disinggung cerita tentang keagamaan?Saya pikir ada dua hal. Yang pertama adalah banyak sekali orang, dan banyak sekali agama percaya bahwa Dia (Tuhan) hanya satu. Jika saya jelaskan, keyakinan saya kepada orang, mereka akan bilang bahwa itu bukan keyakinan saya.
Yang kedua, saya punya pandangan yang kuat tentang agama. Saya datang dari perspektif yang kuat tentang Tuhan, dan apa yang Dia perintahkan terhadap kita. Saya tidak pernah lepas memegang keyakinan seperti itu. Saya lahir dalam keluarga Kristen. Tapi, dari sejak berusia muda, ajaran Kristen tidak terlalu banyak berpengaruh terhadap saya. Saya tidak bisa mengerti kenapa kita harus percaya pada satu orang untuk melihat Tuhan. Itu tidak mudah saya mengerti.
Saya punya teman di Srilanka yang bekerja untuk komunitas Budha. Dia berasal dari distrik yang sangat miskin. Saya pernah bicara pada dia dari hati ke hati. Waktu itu saya katakan, kalau saya tidak diizinkan ke surga untuk melihat Tuhan, saya tidak akan ke sana. Karena itu saya tidak punya materi yang bisa saya jelaskan tentang keberagamaan saya. Saya juga menikah, kira-kira 25 tahun lalu. Masalah keagamaan ini bukan menjadi persoalan yang kita diskusikan di rumah. Kami bercerai tiga tahun lalu, karena ada persoalan besar di antara kami. Dalam kondisi seperti itu, saya tidak bisa menghindar dari kepercayaan saya.
Dalam beberapa bulan terakhir, ada tetangga saya yang selalu mengundang untuk datang ke gereja. Saya di Inggris tinggal di kalangan masyarakat yang kebanyakan beragama Kristen. Setiap pekan, setiap bulan, dia bawakan saya buletin. Dia tidak pernah menyerah. Akhirnya, setelah saya cerai, saya katakan oke, saya mulai. Saya pikir, Kristen adalah juga salah satu agama besar.
Dalam dunia Kristen juga ada tempat bagi orang-orang yang toleran dan bisa menerima setiap orang. Di sini juga ada titik untuk memandang dunia secara keseluruhan. Di sini juga ada perspektif untuk melihat Tuhan. Saya kemudian mulai mencobanya. Itu juga bagian dari budaya masyarakat yang sebaiknya juga kita jalani.
Adakah perbedaan yang dirasakan setelah Anda membuat 'warna baru' dalam beragama?Saya merasakan bahwa memang beragama ini adalah sesuatu yang harus kita jalankan. Selama ini yang hilang pada diri saya adalah saya bisa bekerja dengan orang lain. Setelah bertemu dengan teman saya yang di Srilanka, juga beberapa yang lain, kami bisa berdiskusi sangat menyenangkan tentang agama. Kami memang punya jalan sendiri-sendiri, tapi kami menyadari sebagai bagian ini. Saya juga berterima kasih dengan banyak orang. Saat ini saya merasakan dengan begini menjadi lebih positif.
Saat ini masih mengajar anak-anak berkebutuhan khusus?Oh, tidak lagi. Saya sudah berhenti mengajar sekitar lima tahun lalu. Saya punya anak perempuan. Saya perlu berhenti bekerja untuk membesarkannya.
Apakah kegiatan baru dalam beragama Anda bakal berpengaruh terhadap karya-karya Anda di masa mendatang?Sesungguhnya perspektif agama sudah selalu ada dalam karya-karya itu (Meski bukan penganut Kristen yang taat, Torey seorang yang religius). Sehingga ini tidak akan terlalu banyak berubah. Saya lebih suka menunjukkan daripada mengatakan. Bila saya mengungkapkan secara langsung malah akan membuat kalangan tertentu menghindar.
Percayakah bahwa agama juga bisa menjadi bagian penting dalam rehabilitasi anak-anak berkebutuhan khusus?Ya, tentu saja. Saya pikir, dalam semua agama itu ada ajaran untuk toleran dan saling bisa memaafkan. Ini juga menjadi konsep yang harus kita kembangkan. Saya pikir, agama adalah bagian penting dalam membentuk masyarakat yang bisa mengerti ketidaksempurnaan anak-anak berkebutuhan khusus. Jadi ini sangat penting.
Apa sih yang membuat Torey bisa jadi seperti sekarang ini? Itu pertanyaan dari banyak penggemarnya. ''Saya berasal dari keluarga yang bisa menerima apa adanya,'' katanya. Ketika ayah dan ibunya berpisah, Torey tinggal bersama kakek-neneknya. Ia mengenang masa kecil di Montana itu sangat indah. Di kota kecil yang terletak di sebelah utara Taman Nasional Yellowstone. Ia bermain-main dengan pamannya yang sebaya dengannya. Di rumah itu ia mempunyai dua anjing dan dua ekor kucing. Saat Torey berumur 12 tahun, ibunya menikah lagi. Torey hidup bersama mereka. Torey merasa tak nyaman. Pasalnya, di tempat baru itu ia tak diizinkan punya peliharaan. ''Di situ mulai saya menulis,'' ungkapnya di depan peserta ceramah umumnya di Gedung Depdiknas. Bagaimana menjalani aktivitas menulis setiap hari?Saya biasanya menulis di pagi hari. Ini berlangsung sejak anak perempuan saya lahir. Setelah pagi-pagi menulis, saya bermain dengan dia di siang hari. Dia sekolah di pagi hari. Begitulah kebiasaannya.
Sejak kapan Anda mulai tertarik untuk menulis?Sejak pertama kali saya tahu pegang pena dan akan terus berlangsung selamanya. Saya sangat suka menulis.
Di masa lalu, apa yang biasa Anda tulis?Ketika kecil, saya punya banyak sekali imajinasi. Saya ciptakan dunia dengan manusia yang beragam dengan bahasa mereka masing-masing, agama mereka, dan sebagainya. Saya terus jalankan ini semasa kanak-kanak. Barulah pada usia 11-12 tahun saya mulai menulis cerita. Saya terus menulis, menulis, dan menulis. Suatu ketika saya ingin tahu volume tulisan saya. Untuk itu saya lihat kertas yang sudah terkumpul dalam kotak. Saya ambil satu lembar di antaranya dan dihitung jumlah kata yang tertulis di situ. Kemudian saya kalikan dengan jumlah lembaran yang telah saya tulis. Dan, ternyata saya sudah menulis sekitar empat juta kata.
Untuk merampungkan buku Sheila, Anda perlu waktu berapa lama?Hanya delapan hari.
Karya yang lain?Buat saya Sheila adalah buku yang spesial. Dalam menulisnya, saya memang didasari perasaan perlu. Saya menikmatinya. Ini seperti karya foto yang punya emosi. Jika Anda menulis dengan baik, Anda bisa menangkap situasi yang ingin dituliskan. Anda bisa kilas balik masa yang sudah terlewati. Anda seperti mengalami kembali peristiwa yang hendak ditulis. Saya sering ingin menulis pengalaman kecil yang menarik untuk diceritakan. Itulah yang kemudian saya mulai dengan Sheila. Karena itu buku Sheila bisa ditulis dengan cepat. Tapi, untuk buku yang lain, saya berkembang menjadi penulis profesional. Waktu penulisannya tidak bisa secepat Sheila. Saya bisa katakan untuk menyelesaikan buku yang lain bisa empat, lima atau enam bulan.
Sekarang karya apa yang sedang disiapkan untuk terbit?Ya, saya baru menyelesaikan satu buku. Mungkin karya ini akan terbit pertama kali di Amerika pada Maret mendatang. Di sini kurang lebih bisa terbit Mei yang akan datang. Ini memakan waktu, karena sekarang saya banyak melakukan tur promosi seperti sekarang ini. Sekarang juga ada buku anak-anak yang segera diselesaikan.
Buku anak bertema apa itu?Saya senang sekali fiksi. Karena karya ini menyempurnakan saya untuk membuat karya yang berbeda-beda. Ini buku tentang anak-anak yang kembali ke masa yang lampau ketika peradaban masih primitif.
Anda selalu bertemu dengan tokoh-tokoh yang menjadi karakter buku Anda?Saya beberapa kali kontak dengan mereka. Seperti Anda sayalah. Apa sampai sekarang masih juga kontak dengan semua guru yang pernah mengajar Anda. Pasti hubungan Anda kan biasanya cuma saat masih bersekolah. Khusus untuk anak-anak yang tertuang dalam buku, saya memerlukan perhatian khusus tentang kondisi mereka. Saya juga perlu untuk mendapat izin dari mereka, sehingga perlu untuk dikontak.
Torey termasuk orang yang punya banyak minat. Ia suka pada sejarah kuno, arkeologi, fisika, dan kosmologi. Ia juga seorang penikmat teater, musik klasik, dan tentu saja alam bebas. Meninggalkan Amerika sejak 1980, Torey kini berdiam di North Wales, Inggris, bersama putri tunggalnya, Sheena. Mereka menghuni sebuah rumah peternakan di sana. Ketika seorang wartawan menanyakan tentang buah hatinya itu, Torey menyebutkan sang anak menderita cerebral palsy. Apa yang melatarbelakangi kepindahan Anda ke Inggris?Ronald Reagan (Torey tertawa lebar). Amerika adalah negara besar. Dia menjadi pemimpin dunia waktu itu. Negara ini punya banyak program sosial. Masyarakatnya bisa berpikir terbuka. Amerika juga serius mengentaskan kemiskinan. Dia juga punya pandangan ke depan yang jauh. Jimmy Carter menjadi pemimpin terakhir yang mengalami era seperti ini.
Kemudian semuanya berubah. Saya tidak tahu sebabnya. Saat yang bersamaan, Ronald Reagan terpilih juga Margareth Thatcher jadi pemimpin Inggris. Reagan kemudian melakukan pemotongan pajak. Negara menjadi tidak punya uang sebanyak dulu. Akibatnya tidak banyak program yang bisa dijalankan.
Saya seorang guru dengan pendidikan yang sangat tinggi. Akibatnya, saya menjadi terlalu mahal untuk dipekerjakan. Saya juga bekerja hanya dengan 8-10 orang. Saya menjadi tidak lagi punya nilai yang baik dari sisi uang. Program pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus menjadi dihabisi. Perubahan dunia ini jauh berada di luar pemikiran saya. Saya seorang sosialis. Saya pikir Inggris lebih mendekati kondisi ideal dalam gambaran saya.
Apa yang beda dari Inggris?Oke. Tolong jangan Anda nilai Inggris dari Tony Blair. Kebanyakan orang Inggris tidak senang dengan Tony Blair. Kita punya kartun politik yang sangat terkenal yang menggambarkan George W Bush (presiden AS) sebagai monyet, dan Tony Blair sebagai anjing pudel yang dituntunnya. Ini bagian dari efek peristiwa 9/11.
Inggris juga mengajari kami banyak tentang demokrasi. Jangan dikira apa yang kita pikirkan juga dipikirkan pemerintah. Memang, kitalah yang memilih pemerintah. Tapi setelah terpilih, mereka sudah punya pikiran sendiri yang berbeda dari keinginan kita. Jadilah, kita tidak punya kekuatan apa-apa untuk membuat perubahan. Saya pikir semua dunia juga seperti itu.
Anda tertarik terlibat dalam politik?Ya, politik itu berada dalam kesadaran saya, seperti halnya agama. Dalam hidup itu harus ada diplomasi. Suatu ketika kita perlu waktu untuk mendengar. Tapi di waktu yang lain perlu waktu untuk mengistirahatkan otak, dan tidak mendengar apa-apa.
--------------------------------------------
--------------------------------------------