Thanks to Ryz, jadi dapat ide nih, gimana juga kalau kita isi blog ini dengan artikel-artikel yang kita temukan tentang Torey, jadi isinya lebih beragam, selain karya seni para member, juga ada artikel tentang Torey, dan kita posting juga di blog yang di Friendster yah. Yang udah lama juga oke kog
Ini artikel yang aku temukan di
Republika Online :
Minggu, 08 Februari 2004
Torey Hayden:
Guru Istimewa Untuk Murid Istimewa"Berkali-kali aku ditanya tentang puisi di dinding kantorku. Sungguh wajar bila mereka ingin mengenal gadis cilik yang menulisnya. Sedangkan aku --aku hanya berharap bisa memiliki separuh saja dari kehebatanmu sebagai penulis". Kalimat ini menjadi pembuka buku Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil yang ditulis oleh Torey Hayden, seorang guru anak-anak penderita cacat mental dan gangguan emosional yang parah.

Barangkali tidak pernah terbayangkan oleh Torey bahwa catatan (jurnal) pribadi yang ditulisnya untuk merekam waktu-waktu khusus yang dilewatkannya bersama muridnya, gadis cilik penulis puisi di dinding kantornya itu, nantinya menjadikannya guru sekaligus penulis hebat yang dikenal di seluruh dunia. Kisah tentang Sheila sang gadis cilik dan murid istimewa itu, tidak hanya menyentuh hati jutaan pembaca di Inggris dan Amerika Serikat, tetapi juga di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sheila memang istimewa.
Torey hanya memerlukan waktu 8 (delapan) hari untuk menyelesaikan catatannya. "Sebelum segalanya menjadi masa lalu dan terlupakan," demikian alasan Torey. Menyadari bahwa kemudian catatan ini menjadi sebuah buku yang utuh, Torey tergoda untuk mengirimkannya ke sebuah penerbit. Tak perlu waktu lama bagi penerbit untuk menilai potensi naskah ini. Hanya dalam waktu 42 hari sejak Torey mengawali menulis catatannya, dia sudah menandatangani kontrak penerbitan karya pertamanya.
Semua ini terjadi pada tahun 1979 ketika dia berusia 28 tahun. Saat ini Sheila (judul aslinya One Child) sudah diterjemahkan ke dalam 28 bahasa. Sekuelnya, Tiger's Child (Sheila: Kenangan yang Hilang), ditulisnya 15 tahun kemudian ketika Sheila sudah menjadi gadis dewasa. Edisi bahasa Indonesia kedua buku ini diterbitkan oleh Penerbit Qanita pada tahun 2003, atau 24 tahun setelah buku Sheila pertama ditulis Torey. Walaupun bertabur pujian dari media di AS, penampilan fisik buku aslinya tidaklah istimewa, bahkan sampulnya cenderung kusam.
Apalagi ketika ditemukan penerbit Qanita di sebuah toko buku di Singapura, buku ini nyaris tak terlihat karena terletak di sebuah pojok rak yang tersembunyi. Namun, di luar dugaan, hanya dalam waktu enam bulan sejak diterbitkan Qanita, buku ini sudah mengalami tiga kali cetak ulang dengan jumlah cetakan lebih dari 35.000 eksamplar. Sheila tampaknya hadir pada saat yang tepat ketika banyak orangtua di Indonesia yang memiliki anak berkebutuhan khusus (seperti autis, down sindrom, gangguan emosional, dsb.) mulai membuka diri untuk mencari bantuan profesional alih-alih menyembunyikan kondisi anaknya.
Apalagi sekolah-sekolah umum di Indonesia juga mulai menerima murid-murid dengan kebutuhan khusus. Ditambah pula, media cetak kerap menurunkan berita tentang anak-anak berkebutuhan khusus ini-baik tentang pengalaman orangtuanya, penanganannnya, maupun informasi institusi yang menyediakan bantuan profesional. Namun terlepas dari soal waktu terbit, Torey memang guru yang istimewa. Dia bisa menuliskan pengalamannya mengutip harian Kompas seperti seorang sastrawan, sehingga konsekuensinya, banyak orang kemudian terkesan dan mengetahui apa yang dilakukannya.
Inilah yang membedakan dirinya dengan guru-guru yang lain yang, menurut Torey, mungkin saja melakukan lebih daripada apa-apa yang telah dilakukannya. Bagi Torey, menulis hampir seperti "penyakit" bagi dirinya. Menulis menjadi bagian dari dirinya, seperti makan, tidur, dan bernafas. Katanya, "Saya mendengar tentang penulis lain yang harus mendisiplinkan diri mereka untuk duduk di depan komputer dan: menulis setiap hari atau "menulis sekian halaman". Bagi saya, justru masalahnya adalah mendisiplinkan diri saya agar bisa menjauh dari komputer! Saya akan senang sekali kalau boleh menulis sepanjang hari dan mengabaikan hal-hal lain.
" Sheila disusul dengan buku-buku selanjutnya yang tak kalah istimewanya-semuanya berkisah tentang murid-murid yang pernah diasuhnya, seperti Jadie: Tangis Tanpa Suara (Qanita, 2003), Kevin: Belenggu Masa Lalu (Qanita, 2004), Just Another Kid, Somebody's Else Kid, dan Beautiful Child (ketiganya akan diterbitkan Qanita). Selain nonfiksi, Torey juga piawai menulis kisah-kisah fiksi, seperti Mechanical Cat dan David's Story. Di Jepang, bahkan diterbitkan "Essay" yang adalah kumpulan tulisan yang ditulis untuk Hayakawa International Forum di Tokyo. Isinya menceritakan pengaruh buku-buku Torey terhadap kehidupan para pembacanya.
Keterlibatan Torey pada anak-anak berkebutuhan khusus ini berawal ketika dia masih menjadi mahasiswa di jurusan biologi. Menjadi sukarelawan untuk membantu anak-anak terbelakang usia prasekolah, Torey langsung jatuh hati pada pandangan pertama ketika melihat kondisi anak-anak ini. Setelah lebih intens bergulat di lapangan dengan anak-anak berkebutuhan khusus ini, Torey kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikan master dan doktornya di bidang psikologi pendidikan/pendidikan khusus.
Bekal pengalaman yang sangat kaya ditambah pendidikan formal yang dimilikinya membuat buku-buku Torey, walaupun berkisah bak novel, tetap tidak kehilangan nilai referensialnya. Inilah barangkali yang menjadikan buku-bukunya diminati siapa saja --baik guru, psikolog, maupun pembaca umum. Seandainya saja lebih banyak lagi guru yang mengikuti jejak Torey dengan menuliskan pengalaman mereka, mungkin Boston Globe yang memberikan pujian untuk buku-buku Torey tidak akan mengatakan, "Dunia memerlukan lebih banyak lagi (guru) seperti Torey Hayden." Bukan begitu?
(Sari Meutia, Editor Sebuah Penerbitan )